Apa jadinya jika bahasa binatang tak lagi dianggap misteri, tetapi sesuatu yang dapat dibaca sebagaimana manusia membaca ayat dan ilmu? Buku ini menelusuri kisah xenoglosia Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an, lalu membandingkannya dengan riset modern tentang komunikasi fauna melalui zoosemiotika dan animal welfare.
Pembaca akan menemukan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik: apakah mantiq al-tayr sekadar mukjizat, atau petunjuk bahwa hewan sesungguhnya memiliki struktur bahasa yang dapat dipelajari? Apakah mungkin manusia suatu hari benar-benar memahami percakapan semut, burung, atau kuda laut? Jawabannya terselip dalam halaman-halaman yang menantang cara kita melihat makhluk hidup di sekitar dan mungkin saja mengubahnya.





Reviews
There are no reviews yet.